Petani Tua


Tentang Petani Tua
July 20, 2007, 2:30 pm
Filed under: Catatan Sahabat

Tentang Petani Tua

Oleh Aal

Pakaiannya sederhana. Sekedar Membungkus kulitnya yang mengendur. Ketuaan jelas nampak dari kerutan wajah. Kacamata menggantung di daun telinga, ditopang hidung yang agak besar. Kopiah rajutan dengan wrana biru membentuk pola zig-zag menutupi uban yang jarang-jarang. Beliau bilang dirinya kelahiran tahun 1926. Kemana-mana beliau ditemani sebuah tongkat untuk membantu tulangnya yang mulai lemah. Kekaguman segera menyerap perhatian saya ketika bicara dengannya, ingatan pak tua tak lekang oleh ketuaan.

Samsir. Samsir Mohammad lengkapnya. Saya merasakan keberuntungan yang begitu besar bisa bertemu dengannya. Jabatan tangannya begitu erat ketika menyalami tangan saya yang kedinginan akibat terpaan angin malam, saya merasakan kehangatan yang begitu besar.

Petani tua, orang biasa menjuluki Samsir. Alkisah, dia ditawari membuat Kartu Tanda Penduduk oleh pegawai kecamatan. Beliau menerimanya dengan sebuah pertanyaan diajukan pegawai kecamatan.

Kepulan asap rokok mengepul dari mulut petani tua. Beliau perokok kuat, mungkin hanya jeda setengah jam saja dari batang satu ke batang berikutnya. Sigaretnya kretek, namun tak segan berganti jenis dengan meminta milik lawan bicaranya, ketika batang sigaret terakhirnya sudah habis dihisap.

“Pekerjaan?”
“Petani,” jawab Samsir.
Pegawai terbenggong heran.
“Nggak biasa ternyata petani bikin KTP,” terang Samsir pada saya.
“Dari situ orang sebut saya si Petani Tua,” tambahnya.

Seorang teman saya berkelakar dengan menjuluki Samsir Pendekar Tua dari Lereng Burangrang. Sama seperti Rasulullah menambah kata Al-Ghifari di belakang nama Abu Dzar sahabatnya. Ya, Samsir hidup (atau dia bilang menumpang) di Lereng Burangrang, daerah terpencil di sudut Kota Bandung. Tempat terpencil yang bahkan tak diketahui oleh teman saya yang asli Bandung.

Meski pintar, Samsir tak bicara dengan bahasa yang njlimet layaknya mahasiswa dan akademisi kebanyakan. Dia tak suka bahasa seperti itu, “elitis,” katanya. Logikanya memukau dan selalu saja sederhana dalam menganalisis sesuatu. Penempatan kata dalam sebuah frasa ataupun kalimat tak luput dari komentarnya.

Lurus dan benar. Hanya dua syarat itu saja yang digunakannya ketika berpikir. Keduanya mutlak bila kita ingin mencari kesimpulan yang benar. Lurus dan benar harus digunakan oleh para intelektual sehat, intelektual yang bekerja untuk rakyat banyak.

Umur petani tua boleh dikata panjang. Tak banyak manusia yang bisa hidup selama dia sekarang ini. Hidupnya mungkin tak lama lagi, tapi saya tak berharap begitu. Orang-orang seperti Samsir, mengutip Chairil Anwar, harus “hidup seribu tahun lagi”. Atau setidaknya, bisa membuat pikiran dan hidupnya bertahan seribu tahun lagi. Samsir mencobanya, karena ajal makin mendekati urat lehernya.

Jatianangor,18 Maret 2007


No Comments Yet so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>