Filed under: Catatan Sahabat
Sahabatku, Sam…
Oleh Sadikin Gani
Perkenalan kami tampaknya agak unik. Namanya aku kenal dari seorang kawan chat di Jerman. Ternyata, meski sekilas, aku pernah melihatnya dalam satu acara bedah buku. Itu tahun 2005.
Kawan di Jerman bilang, “belajarlah pada dia. Dia orang bersih dan jujur.” Singkat cerita, cari informasi pada Bilven, pemilik toko buku Ultimus. Tak kuduga, informasi itu dengan mudahnya aku peroleh. Rupanya orang yang dimaksud kawan di Jerman itu sering ke Ultimus. Suatu hari aku dipertemukan oleh Bilven dengannya. Kami berbincang-bincang di pelataran samping toko buku Ultimus, tempat yang biasa digunakan untuk berdiskusi.
Kopi, rokok Gudang-garam merah, kupluk dan tongkat. Itu benda yang identik dengan dia. Sesekali dia bicara tenang dan pelan. Tempo itu tidak monoton. Kadang dia bicara agak keras. Kegelisahannya kentara tatkala bicara bumi yang kita pijak dan para penghuninya yang bernama manusia. Meski demikian, dia selalu tersenyum menghadapi semuanya. “Apapun yang terjadi langit tak akan runtuh,” katanya. “Biarlah mengalir, toh pada akhirnya akan ke muara juga. Tapi, kalau kita sudah tahu jalan cepat menuju ke sana, mengapa mengambil jalan berputar-putar.”
Olehnya aku disentuh soal arti sejarah dan berbicara sebagaimana adanya. “Lurus dan benar,” itu rumusan menjalani hidup yang senantiasa dia sampaikan pada orang-orang yang mengajaknya bertukar pikiran. “Jangan selingkuh!”
Persahabatan kami berlanjut. Meski umurnya sudah 81 tahun, dia selalu mengingatkan untuk memanggil namanya tanpa embel-embel apapun. Cukup menyapanya dengan sebutan Samsir. Nama lengkapnya Samsir Mohamad. Dia berasal dari Minang. Menurutnya, itu salah satu aktualisasi dari sikap egalitarian. Awalnya agak canggung menyapa dia seperti itu. Tapi, akhirnya aku sanggup juga. Melalui SMS kukatakan, “aku akan memulai bersikap egaliter. Aku akan memanggilmu “Sam”.
Sejak saat itulah aku menyapanya dengan sebutan “Sam”. Pribadi yang luwes sehingga sanggup menginjak jaman tanpa canggung: tidak kolot dan sok. Dia mampu menanggalkan dan berusaha mengajarkan agar kita sanggup menyingkirkan “adat dan paham tua” yang mengekang kebebasan dan kemerdekaan manusia.
Dia senang berdiskusi dan asyik-asyik saja ketika aku mengajaknya masuk ke lingkungan dan greget generasi yang jauh lebih muda darinya. Ketika film Nagabonar 2 diluncurkan, kami sempat menontonnya. Aku merasa lengkap menonton film itu, karena bersama orang yang memang mengalami dan terlibat langsung dalam perjuangan revolusi 1945.
Dia adalah seorang sahabat, salah seorang generasi 45 yang masih sanggup untuk jujur mengatakan kekeliruan dan mengajak kita untuk membenahinya. Kalimat yang paling aku suka darinya: “jangan pernah menghitung perubahan berdasarkan umur kita….”
Terima kasih, Sam…
No Comments Yet so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>