Filed under: Perjalanan
Barangkali di kalangan muda sekarang nama Islamil Marzuki tidak sesemarak penggubah lagu-lagu pop sekarang ini. Islmail Marzuki memang hadir di paruh pertama abad yang lalu, ketika bangsa ini baru bangkit menjadi bangsa yang merdeka, dan suka duka dalam pergulatan untuk terus menjadi bangsa merdeka. Kenyataan itulah yang direkam olehnya dan dituangkannya menjadi lagu-lagu seperti Rindu, Sampul Surat, Selendang Sutra, Saputangan dari Bandung Selatan, Melati di Tapal Batas, Sepasang Mata Bola, Djuwita Malam, Gugur Bunga dan sederet lagu lainnya.
Begitulah seorang kakek yang rambut, kumis dan janggutnya sudah beruban ditambah linu-linu di kaki kirinya yang sewaktu-waktu membuatnya tak bisa tidur dan tak mampu berjalan. Petang itu di kamarnya yang berukuran 2,5 x 4 meter tengah mendengarkan lagu-lagu Ismail Marzuki.
Ketika terdengar lagu Djuwita Malam dia memejamkan mata dan terawangnya hadir. Terbayang wajah seorang sahabatnya yang berperawakan tinggi-tegap, rambutnya agak keriting dan sikapnya lemah lembut. Namun, dia tegas dan kukuh jika tengah dalam pertempuran dengan serdadu Belanda. Dalam lagu itu ada lirik “di Jatinegara kita akan berpisah…” dan dia memang berpisah dengan pacarnya di situ dalam perjalanan pulang ke Purwakarta. Barangkali itulah alasannya mengapa dia amat menyukai lagu Djuwita Malam.
Sahabatnya itu didera derita begitu panjang sampai terpaksa hidup di kursi roda bertahun-tahun lamanya dan nyaris lumpuh akibat peluru negeri sendiri—negeri yang dibela dan dihormatinya—bersarang di pinggangnya selama puluhan tahun lamanya. Itulah harga suatu pendirian sebuah kehendak dan kesetiaan pada Proklamasi Kemerdekaan. Dan tembang Indonesia Pusaka telah diperolehnya. Kalimat dalam lagu itu … tempat akhir menutup mata. Ya, setelah sekian lama dirawat oleh anak-anaknya dan setelah puluhan tahun dijegal tak bisa kembali, akhirnya dia menutup mata di Tanah Airnya.
Dari sudut-sudut mata si kakek membersit butir-butir bening yang perlahan meluncur ke pipi dan sisi hidungnya. Wajahnya sendu. Di rongga dadanya membuncah kesedihan dan rasa hormat pada teman-temannya yang telah tiada. Hasa Gayo yang amat menyukai lagu Jangan Ditanya, Sidik Samsi Melati di Tapal Batas, Hasan Kopral Jono.
Kepingan CD yang memuat lagu-lagu Ismail Marzuki itu diperoleh si kakek dari seorang anak muda, dan ini membuat si kakek agak heran.
“Kenapa kau suka Ismail Marzuki? tanyanya.
“Itu kan lagu-lagu perjuangan yang digubahnya, kakek..,” sahut si anak muda itu sambil menatap si kakek.
“Betul…?” ujar si kakek, dan melanjutnya, “kan aku beberapa waktu lalu yang minta kumpulan lagu-lagu Isma.
“Ya… sih. Betul. Tapi aku juga suka ciptaan Ismail Marzuki.”
Si kakek mengernyitkan dahinya.
“Begini, anak muda…, mula-mula kau pakai kata gubahannya, lalu kau pakai kata ciptaannya. Si kakek berhenti sejenak, kemudian melanjutkan: “ya…, barangkali aku ini kuno. Lagi pula aku ini kan manusia abad lalu. Sejauh kuketahui orang yang menyusun, atau sebutlah yang membuat musik disebut komponis. Aku juga tidak tahu kenapa kata itu tidak dipakai oleh para pembuat lagu sekarang ini. Yang dipakai malah yang sangat hebat dan sebenarnya bisa disebut mustahil. Apa ada manusia menciptakan sesuatu. Setahuku manusia cuma menemukan sesuatu yang belum ditemukan. Contohnya elemen yang dari waktu ke waktu bertambah jumlahnya ditemukan berkat kemajuan penelitian. Jadi, ditemukan, bukan diciptakan. Menyusun sesuatu dari yang telah ada, apakah itu bisa disebut mencipta? Ya, terpulang pada kalian yang muda-muda. Aku ini sudah tua, sebelah kakiku sudah di liang lahat, hehehe….
1 Comment so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
petani tua. dan saya anak muda calon tani serta nyalon guru.
Comment by fay March 18, 2008 @ 5:37 amdisekolah saya diajar untuk menggubah. bukan mencipta.
itulah kesalahan saya