Filed under: Masa-masa Revolusi
Sebelum lahir Perjanjian Renville tahun 1948 sejumlah kesatuan TNI Bambu Runcing—berasal dari Laskar Rakyat Jawa Barat—yang lahir setelah agresi militer Belanda pada Juli 1947 memasuki kota Jakarta. Kesatuan ini di tahun sebelumnya diseterui oleh pihak pemerintah, karena menolak perjanjian Linggarjati. Mereka mendapat semacam tempat hunian di beberapa tempat. Salah satunya terletak di Jalan Pecenongan yang lokasinya nyaris di seberang sebelah Utara gedung yang sekarang disebut Istana Negara. Dulunya hunian penguasa tertinggi kolonial Belanda yang disebut Gubernur Jendera.
Tempat hunian di Pacenongan itu adalah perusahaan yang menampung hasil bumi, seperti gula-kelapa dari Purwokerto, minyak sereh dan lada dari Lampung. Namun, sejak datang peti-peti berukuran 1 X 1 meter berisi tafsir Qur’an, tempat itu berubah menjadi semacam toko buku. Bangunan bagian depan dari bangunan dijadikan toko. Separuh ke belakang dijadikan kantor, dan selebihnya hunian serta dapur dan kamar mandi.
Sebuah kamar di bagian belakang dihuni seorang gadis yang bekerja sebagai wartawan lepas. Gadis itu bernama Niar. Perawakannya ramping. Kuncennya yang biasa dipanggil Ar berperawakan agak pendek dan memiliki wajah cukup tampan dari yang lain, seperti Cinan—yang gemar meremas-remas ujung hidungnya dengan telunjuk dan jempol—dan si Andia yang biasa-biasa saja. Mereka berdua ini (Cinan dan Andia) sering agak lama berada di situ. Berbeda dengan Kus, Nur dan Capang yang hanya satu dua malam berada di situ, lalu menghilang lagi masuk ke pedalaman Jonggol, Pasirtanjung dan dusun-dusun di sekitar Sanggabuana, atau jauh ke Sukabumi Selatan.
Andia pernah dititipkan oleh Cinan di Jalan Tangerang. Dari sana ke Tanah Abang, rumah seorang pedagang pakaian jadi di Tanah Abang. Pekerjaan mereka sebenarnya tidak banyak. Tetapi semuanya beresiko tinggi jika diketahui oleh pihak Belanda. Sudah pasti ditangkap. Jika diketahui membawa bukti-buki semacam obat-obatan resikonya tidak seberapa. Tetapi jika kedapatan membawa amunisi, granat dan senjata api, panjang ceritanya: disakiti bahkan bisa sampai mati.
Sebenarnya hanya semacam kurir-kurir pembawa barang-barang berupa obat-obatan dan pakaian. Terkadang juga golok, parang, hulu kapak yang sering diperlukan ketika berada di belukar dan hutan. Walau hanya itu tugasnya, diperlukan ketelitian dan kepiawaian berperilaku yang sesuai dengan pengakuan ketika tidak bisa lagi mengelak dari pemeriksaan dan penggeledahan di pos-pos tentara Belanda atau sergapan patroli. Jika mengaku petani, walau dengan raut wajah yang dibodoh-bodohkan, si kakitangan Belanda tak terkecoh. Diperiksanya telapak tangan. Telapak tangan yang jarang, apalagi tidak pernah menggenggam dan mengayunkan cangkul bisa dipastikan licin. Kalau sudah begitu pastilah ditangkap dan ditahan. Tapi jika pandai membuat kilah-kilah dan tak ada barang bukti, biasanya tidak lama sudah dilepaskan. Secara nyata kakitangan Belanda itu tidaklah seringan tangan kakitangan penguasa otoriter Soeharto terhadap orang-orang yang dicurigai, apalagi yang dituduh dan dijadikan tahanan. Memang survey membuktikan bahwa begundal-begundal lebih telengas dari tuan dan majikannya.
Dalam keadaan seperti itu—sebuah kondisi yang mengharuskan kehati-hatian—bagi pemuda yang memiliki gejolak keremajaan tidak bisa samasekali dipadamkan. Dalam keadaan normal kematangan biologis seusia mereka lazimnya membuncah-buncah. Sering terjadi si penakut lari ke masturbasi dan si avonturir menempuh resiko kena GO yang dalam kelakar disebut kinderziekte alias penyakit kekanak-kanakan. Apalagi rombongan kurir itu kebetulan banyak anak kedokteran.
Suatu pagi, hari Minggu, Cinan bertanya, “kapan kau berangkat, ‘Ndia?”
“Besok,” sahut Andia ringan.
“Udah rapi semua dan lewat yang biasa?”
“Ya, udah. Lewat yang biasa saja. Aku sudah janjian sama di Onih.”
Mereka berdua duduk berhadapan. Masing-masing menghadapi secangkir kopi. Pagi itu si Azhar yang mendapat giliran menyiapkan sarapan. Zar itu pandai sekali menggoreng telur. Goreng telurnya menggelembung berisi dan aromanya mengundang selera makan. Ketika aroma itu menyambar hidung mereka berdua, Cinan bergumam, “si Zar itu cocoknya buka restoran Padang, hehehehe….”
Barang-barang yang akan dibawa Andia ketika itu beragam. Kemarin sore dia sudah mengambil obat-obatan dari Bogor. Obat-obat itu berasal dari seorang wedana dan adiknya yang bersekolah di Kanisius Jakarta. Namanya Hindun.
“Hai, Andia, kau mampir di gang Sepatu. Maksudku, kalian berdua.” Cinan dengan suara agak miring.
“Ya…, mampirlah. Nggak lama sih, cuma dua jam…,” sahut Andia.
“Gila lu…, sempet-sempetnya,” gerutu Cinan.
“Ade rejeki nyamperin, masa iye dibiarin, Cinan,” sahut Acin sambil bangkit dari duduknya, lalu pergi ke belakang. Tidak lama kemudian dia meneriaki Cinan, “Cinan, goreng telur koki kita sudah mateng. Mumpung masih anget, makan yuk!”
No Comments Yet so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>