Filed under: Kisahku
Beberapa kali dering nada panggil, kunanti dengan jantung yang denyutnya mencepat. Aku menelepon di sebuah wartel.
Begitu kudengar suara perempuan “hallo dengan siapa?” langsung kusahuti. Kusebutkan namaku dan kota di mana aku berada dan maksudku.
“Tunggu sebentar, bapak masih di kamar, usai mandi,” menyusul terdengar suara gagang telepon diletakkan.
Beragam perasaan dan kenangan membuncah di rongga dada dan benakku. Betapa tidak, sekian puluh tahun kami terpisah tanpa kabar berita. Sepertinya gagang telepon semakin kudekapkan ke telingaku dan waktu serasa begitu lambat beringsut.
Tiba-tiba sapaan lembut, tegas, masuk ke telingaku “Samsir” aku termagu sejenak suara itu kukenal betul. Tanpa berpikir aku menyahut.
“Ya, Samsir, bung Hanafi.” Lalu Hening… detik-detik berlalu seperti selalu. Entah berapa lama, kembali kudengar suaranya.
“Ke Jakarta kau sekarang, kita jumpa.” Suaranya bagai panglima, tapi dilambari kesahabatan. Kami di tahun 60-an sama-sama dalam jajaran Dewan Pimpinan pusat Angkatan ’45 yang berkantor di Menteng 31.
“Tapi…,” sahutku sambil melirik ke arloji di tanganku yang menunjuk waktu pukul 7.30 pagi.
“Tapi apa Samsir,” seperti ada sekelumit kesal dalam suaranya.
“Aku cari ongkos dulu,” sahutku polos.
“Kalau perlu gadaikan celanamu atau apa saja, ke Jakarta sekarang. Nanti kuganti.”
Begitu usai kuucapkan “baiklah” telepon ditutupnya. Aku sewot dan setengah menghardik “sompret”, sampai penjaga wartel menoleh dan memandangku heran. Ini kuceritakan ketika jumpa. Dia terkekeh dan menyembur “sompret juga lo.”
“Impas, drow,” sahutku.
Kami tertawa…
Seorang perempuan muda membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk dan duduk di kursi berjok beludru.
“Sebentar, bapak ke sini,” ujarnya sambil berlalu.
Tak lama kemudian dia muncul mengenakan safari. Aku berdiri sejarak 2-3 langkah, dia berhenti, lalu menatapku dengan tajam. Aku pun begitu. Tatapan kami beradu. Sunyi. Lalu senyum dan berbarengan kami menghambur ke depan. Berpelukan, mencurahkan kerinduan serta kesahabatan. Terasa hangatnya air mata di leherku dan aku pun menyertainya. Kami bertangisan, tangis sukacita dan derita panjang…
Sejak di Menteng 31 aku menyebutnya “bung” sedang dia langsung menyebut namaku, kecuali dalam rapat atau sidang-sidang. Dia termasuk seniorku.
Perempuan muda yang membukakan pintu tadi, datang dengan membawa baki di tangannya. Lalu meletakkan stoples berisi kue kering, dua cangkir teh dan mangkuk berisi gula serta sendok didalamnya.
“Ini bung Samsir, berkenalanlah,” ujar Hanafi.
“Samsir ini anakku.”
Kami bersalaman.
Setelah uccapkan “silahkan” dia meninggalkan ayahnya bersamaku.
Kami duduk berhadapan dibatasi meja kayu berdaun kaca. Sampai saat itu belum ada yang mulai bicara. Cerah dan rasa senang memantul dari wajah kami.
Perlahan nampak olehku matanya berkaca-kaca, lalu dia berdiri dan melangkah ke arahku. Kami berpelukan lagi. Dan dia menangis. Menangis betulan dan terputus-putus berkata: “salahku, salahku Samsir. Aku, aku…”
Aku tak mengerti apa yang dia maksudkan. Dalam suaranya yang terputus-putus itu terasa sesal yang dalam.
Walau begitu aku menyahutinya, “sudahlah, semua sudah terjadi. Tak perlu disesali lagi.” Tak kusadari dengan kalimatku itu, aku seperti bertukar tempat dengannya. Padahal dialah seniorku.
Sebagai sesama orang Menteng 31, yang setia dengan kukuh pada proklamasi dan UUD 1945, aku benar-benar bisa merasakan sesalan yang merasuknya. Sekali itulah baru aku menyaksikan dia menangis, bercucuran air mata, sesal dan kesedihan. Dia yang secuil pun tak merasa takut dihujani peluru NICA dan GURKHA di jalan Cilacap Jakarta ketika hendak menemui menteri penerangan pertama Republik Indonesia. Si jantan pemberani itu kini menangis di hadapanku.
Tanggalnya entah, tapi bulannya aku ingat, bulan September 1945. Ada yang aku ragu apakah cuma berdua, yaitu A.M. Hanafi dan Chairul Saleh.
Untuk menepis keraguan itu , maka kutanyakan dalam untaian percakapan kami. Hanafi menjelaskan: “bertiga kami ketika itu datang ke kantor menteri. Aku, Chairul dan Pandu Kartawiguna. Pas mau memasuki gedung, datang patroli NICA dan GURKHA. Kami berlarian ke dalam gedung dibarengi desingan peluru yang ditembakkan NICA dan GURKHA itu…”
Dia tekekeh, lalu menghirup teh dari cangkir di hadapannya, tanpa mengajak apalagi menyilahkanku. Memang sejak di Menteng 31 segala pernak-pernik basa-basi tanpa kesepakatan kami tinggalkan. Pokoknya segala yang beraroma adat dan paham tua ditepiskan begitu saja. Entah siapa yang mengajari. Barangkali kami sendiri. Aku dengan jari mencomot beberapa kue kering, langsung mengunyahnya.
“Enak?” sapanya tanpa menoleh. Aku cuma mengangguk.
“Begini…” lanjutnya, “kami bertiga waktu itu mengusulkan bahkan mendesak supaya segera dibentuk tentara, sebab kita sudah merdeka dan punya negara…”
Dia berhenti dan kembali menyeruput air tehnya. Sebelum aku ngomong, “lalu…, kau kan tahu… apa yang terjadi.”
Bulan berikutnya tanggal 5, keluarlah pengumuman pemerintah, bukan tentang pembentukkan tentara dari negara yang merdeka tetapi Barisan Keamanan Rakyat (BKR).
Seketika pikiranku melayang ke masa lalu dimana telah terjadi perselisihan antara mahasiswa-pemuda dengan para senior yang sebelum Perang Dunia II, teguh menentang penjajah dan menggugah kesadaran masyarakat bangsa. Di era pendudukan fasis Jepang, bekerjasama dengan pihak Jepang yang menjanjikan pemberian kemerdekaan di kelak kemudian hari.
Saat membidani proklamasi, para senior itu menolak desakan mahasiswa-pemuda untuk secepatnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa sangkut-paut dengan fasis Jepang. Ketika itu tidak ada satu pun partai politik yang muncul. Kiranya itulah perbedaan atau perselisihan pertama antara para senior dengan paramuda yang terdiri dari mahasiwa, pelajar dan pemuda menjelang kemerdekaan dan lahirnya negara Republik Indonesia berdasarkan UUD 1945.
Hari beranjak petang. Seingatku setelah pembicaraan berlangsung beberapa saat, anaknya datang lagi lalu meletakkan pesawat perekam di antara kami berdua. Tentu saja aku berharap akan bisa memperoleh rekaman pembicaraan yang ternyata pembicaraan terakhir. Kita sepakat tidak menyesali masa lalu tapi perlu mengkajinya supaya segala yang buruk tidak berulang kembali dan UUD 1945 perlu dipertahankan untuk dilaksanakan dan dijadikan landasan persatuan bangsa.
Garis-garis di dahi dan pelipisnya menunjukkan ketuaan, tetapi matanya yang tajam senantiasa menyorotkan kecintaan pada bangsa dan tanah air serta kesetiaan pada proklamasi dan UUD 1945.
Itulah yang membuat kami dengan sadar menyandang Angkatan ’45 yang bermarkas di Menteng 31, yang sekarang disebut Gedung Juang.
Beberapa tahun kemudian aku menyambut kedatangannya di gedung tersebut. Tidak lagi berjabat tangan dan berpelukan, tapi kedua belah tanganku menanai peti mati yang didalamnya terbaring dan tak akan bangun-bangun. Diiringi air mata hatiku berbisik: “selamat pulang ke tanah air… selamat jalan Bung Hanafi, sahabat sejati.”
Suatu senja di musim kemarau aku duduk di bangku bambu di halaman gubukku. Di sebuah bukit di lereng Burangrang. Nampak hamparan kota Cimahi dengan atap panjang-panjang, berderet bersilangan, Citarum meliuk-liuk yang telah merendam sejumlah perkampungan demi waduk Saguling. Arah ke Selatan untaian bebukitan dengan siluet cantik dan elok, rupawan bagai gadis petani di Pangalengan…
Sendiri aku mendesis “satu-satu mereka pergi dan tidak kembali lagi: Johar, Armansyah, Gayo, Chan, Bahar, Mul, Cinan, Kusnandar, Wahidi, Onih, Capang, Hanafi… dan yang tak tentu kuburnya, tersebar di Jawa Barat, ada yang di negeri Belanda…”
Mereka telah berikan apa yang mereka punya dan pertaruhkan segalanya sampai nyawa untuk membela RI, proklamasi dan UUD 1945.
Semilir angin senja seperti berbisik padaku: “telah mereka lakukan apa yang mereka bisa dan mampu untuk sebuah kehendak… Selanjutnya terpulang pada paramuda negeri ini…”
Aku pun ditelan gelapnya malam.
Tulisan Terkait:
Menjelang Proklamasi
Amanat Terakhir AM Hanafi, Pejuang yang Dilupakan
Filed under: Catatan Sahabat
Sahabatku, Sam…
Oleh Sadikin Gani
Perkenalan kami tampaknya agak unik. Namanya aku kenal dari seorang kawan chat di Jerman. Ternyata, meski sekilas, aku pernah melihatnya dalam satu acara bedah buku. Itu tahun 2005.
Kawan di Jerman bilang, “belajarlah pada dia. Dia orang bersih dan jujur.” Singkat cerita, cari informasi pada Bilven, pemilik toko buku Ultimus. Tak kuduga, informasi itu dengan mudahnya aku peroleh. Rupanya orang yang dimaksud kawan di Jerman itu sering ke Ultimus. Suatu hari aku dipertemukan oleh Bilven dengannya. Kami berbincang-bincang di pelataran samping toko buku Ultimus, tempat yang biasa digunakan untuk berdiskusi.
Kopi, rokok Gudang-garam merah, kupluk dan tongkat. Itu benda yang identik dengan dia. Sesekali dia bicara tenang dan pelan. Tempo itu tidak monoton. Kadang dia bicara agak keras. Kegelisahannya kentara tatkala bicara bumi yang kita pijak dan para penghuninya yang bernama manusia. Meski demikian, dia selalu tersenyum menghadapi semuanya. “Apapun yang terjadi langit tak akan runtuh,” katanya. “Biarlah mengalir, toh pada akhirnya akan ke muara juga. Tapi, kalau kita sudah tahu jalan cepat menuju ke sana, mengapa mengambil jalan berputar-putar.”
Olehnya aku disentuh soal arti sejarah dan berbicara sebagaimana adanya. “Lurus dan benar,” itu rumusan menjalani hidup yang senantiasa dia sampaikan pada orang-orang yang mengajaknya bertukar pikiran. “Jangan selingkuh!”
Persahabatan kami berlanjut. Meski umurnya sudah 81 tahun, dia selalu mengingatkan untuk memanggil namanya tanpa embel-embel apapun. Cukup menyapanya dengan sebutan Samsir. Nama lengkapnya Samsir Mohamad. Dia berasal dari Minang. Menurutnya, itu salah satu aktualisasi dari sikap egalitarian. Awalnya agak canggung menyapa dia seperti itu. Tapi, akhirnya aku sanggup juga. Melalui SMS kukatakan, “aku akan memulai bersikap egaliter. Aku akan memanggilmu “Sam”.
Sejak saat itulah aku menyapanya dengan sebutan “Sam”. Pribadi yang luwes sehingga sanggup menginjak jaman tanpa canggung: tidak kolot dan sok. Dia mampu menanggalkan dan berusaha mengajarkan agar kita sanggup menyingkirkan “adat dan paham tua” yang mengekang kebebasan dan kemerdekaan manusia.
Dia senang berdiskusi dan asyik-asyik saja ketika aku mengajaknya masuk ke lingkungan dan greget generasi yang jauh lebih muda darinya. Ketika film Nagabonar 2 diluncurkan, kami sempat menontonnya. Aku merasa lengkap menonton film itu, karena bersama orang yang memang mengalami dan terlibat langsung dalam perjuangan revolusi 1945.
Dia adalah seorang sahabat, salah seorang generasi 45 yang masih sanggup untuk jujur mengatakan kekeliruan dan mengajak kita untuk membenahinya. Kalimat yang paling aku suka darinya: “jangan pernah menghitung perubahan berdasarkan umur kita….”
Terima kasih, Sam…